Sunday, July 10, 2011

Bungbungan: Kampung Saya Dahulu dan Sekarang

Kampung saya bernama Bungbungan. Dahulu biasa disebut Banjar Bungbungan, kini menjadi Dusun Bungbungan. Kampung saya ini dahulu bagian dari Desa Yehembang, sekarang bagian dari Desa Yehembang Tengah, merupakan wilayah desa yang berbatasan dengan kawasan hutan. Desa Yehembang Tengah merupakan pemekaran dari Desa Yehembang menjadi tiga desa, Yehembang Tengah sendiri, Yehembang Kangin di sebelah Timur, dan Yehembang Kauh di sebelah Barat. Ketiga desa ini dilalui oleh jalan raya Denpasar-Gilimanuk, tetapi kampung saya terletak kurang lebih 6 km ke arah utara dari pusat Desa Yehembang Tengah. Dahulu, jalan menuju ke kampung saya merupakan jalan tanah yang berlumpur pada musim hujan. Untuk keluar dari atau menuju ke kampung saya, orang biasanya hanya bisa berjalan kaki sambil membawa sendiri hasil bumi yang akan dijual di pasar dan belanjaan yang harus dibawa ke rumah. Kini, setelah jalan diaspal sejak 1980-an, kampung saya tidak lagi benar-benar kampungan, orang pergi dan pulang menggunakan ojek, motor, dan bahkan mobil mili{ sendiri.


View Larger Map
Peta jalan menuju kampung saya Banjar Bungbungan dari pusat Desa Yehembang Tengah. Pada peta, Banjar Bungbungan terletak tepat di bawah tulisan Yehembang.

Saya tidak tahu pasti kapan kampung saya ini mulai ada. Tetapi menurut kakek dan nenek saya, beliau dahulu bergabung dengan orang-orang dari Desa Bungbungan, di Kabupaten Klungkung, untuk dipindahkan ke kampung ini, kira-kira pada akhir masa penjajahan Belanda. Saya termasuk orang generasi pertama yang dilahirkan di kampung ini karena ibu saya lahir di Klungkung dan mengikuti orang tuanya ketika masih kecil. Bapak saya sendiri datang kemudian, setelah bertemu ibu pada saat ibu pulang ke Desa Aan untuk sembahyang di pura kawitan, juga di Klungkung, desa asal kakek dan nenek saya. Saya sulung dari empat bersaudara, laki-laki satu-satunya. Meskipun saya laki-laki satu-satunya, tidak sebagaimana orang-orang di kampung saya, saya sudah merantau sejak tamat SD.

Menurut cerita kakek saya, pemukim awal kampung saya terdiri atas sekitar 40 rumah tangga. Pusat kampung dahulu bukan di tempat yang sekarang, melainkan di lembah yang letaknya ke arah Barat dari lokasi balai banjar sekarang. Entah karena alasan apa, pusat kampung kemudian dipindahkan ke punggung bukit yang menjadi pusat kampung sekarang ini, memanjang kurang lebih arah Utara-Selatan. Setiap rumah tangga di kampung saya tinggal di pekarangan di sepanjang jalan di pusat permukiman itu. Pekarangan itu merupakan pekarangan "ayahan", artinya yang tinggal di situ dikenai kewajiban sebagai anggota banjar. Beberapa ada juga yang tinggal di areal kebun, tetapi mereka juga mempunyai pekarangan ayahan yang ditinggali oleh anggota keluarga lain. Dahulu, ketika keluarga saya masih tinggal "ngubu" di kebun, pekarangan ayahan yang menjadi tempat tinggal sekarang dibiarkan kosong. Hal seperti itu tidak dibolehkan lagi sekarang ini.

Pemukim pemula datang dengan membabat hutan menggunakan perkakas manual berupaka kampak, parang, sabit dan sejenisnya. Ketika itu belum ada transmigrasi seperti sekarang, yang lahannya telah disiapkan oleh pemerintah terlebih dahulu sebelum pemukim datang. Mereka membabat hutan secara bergotong-royong dan setelah itu lahan dibagikan oleh pemerintah waktu itu, masing-masing menerima lahan seluas 2 hektar. Lahan pembagian itu terletak di sepanjang kiri dan kanan jalan utama kampung di bagian belakang lokasi pekarangan dan di bagian lebih ke Utara yang di depannya tidak terdapat lahan pekarangan. Ada juga lahan pembagian yang terletak di seberang sungai yang terletak di sebelah Timur pusat permukiman. Di bagian belakang setiap lahan pembagian tersebut, di bagian ke arah sungai, terdapat lahan tidak bertuan, yang disebut "telajakan". Menurut kakek saya, lahan telajakan itu rencananya akan menjadi hak pemilik lahan di bagian depannya setelah lahan pembagian yang 2 hektar sudah dibudidayakan secara maksimal. Tetapi kemudian, lahan telajakan tersebut digarap oleh para pendatang kemudian dan kemudian, entah bagaimana, menjadi hak milik mereka. Lahan telajakan tersebut berbatasan dengan sungai di sebelah Timur dan Barat pusat permukiman.

Di lahan itu para pemukim awal mula-mula menanam padi gogo, lazim disebut "ngaga", selain juga menanam palawija, sebelum kemudian menanam kopi robusta. Menurut kakek, nenek, dan ibu saya, kehidupan mereka sangat susah pada periode awal mereka bermukim tersebut. Tanaman padi gogo dan palawija mereka sering dirusakkan oleh monyet (kera ekor panjang), lutung, babi hutan, landak, dan rusa. Saya masih merasakan ketika masih kecil dahulu, bagaimana ganasnya monyet merusakkan ladang dan kebun. Oleh karena itu, ladang dan kebun harus selalu dijaga dengan ditemani oleh anjing. Pada saat itu, setiap rumah tangga selalu mempunyai banyak anjing sebagai teman untuk menjaga ladang dan kebun. Kalau tidak ditemani anjing, monyet tidak takut terhadap orang, terutama anak-anak yang membantu orang tuanya menjaga ladang dan kebun. Kalau dilempar dengan batu, monyet jantan akan memimpin gerombolannya memanjat pohon tinggi, menyeringai memperlihatkan taringnya bila dilempar.

Kopi sebagai tanaman pokok tidak bertahan lama. Selain harganya ketika itu tidak pernah tinggi, untuk menjualnya juga harus dipikul oleh bapak-bapak atau disunggi oleh ibu-ibu menuju ke pedagang pengumpul di pusat desa Yehembang. Sekitar akhir tahun 1970-an, saya duduk di kelas 4 atau 5 SD ketika itu, orang mulai menanam cengkeh. Nenek saya mencari biji cengkeh yang digunakan sebagai benih di desa Asah Duren, Kecamatan Pekutatan, yang merupakan pusat produksi cengkeh di Bali ketika itu. Kebetulan nenek saya mempunyai kenalan di sana. Saya pernah diajaknya ke sana, dengan berjalan kaki menuju pusat desa Yehembang, naik bis dari pusat desa Yehembang ke Pekutatan, dan dari sana berjalan kaki lagi menuju desa Asah Duren. Pada saat itu harga cengkeh sedang mahal sehingga banyak petani lain beramai-ramai secara pelan-pelan mengganti tanaman kopi robusta di kebunnya dengan cengkeh. Ketika saya duduk di kelas 5 sampai 6 SD, tanaman cengkeh yang tumbuh di kebun belum begitu besar sehingga harus disiram dengan mengangkut air dari sungai pada musim kemarau.

Ketika saya duduk di bangku SMA, selain menanam cengkeh, orang mulai juga menanam vanili. Tetapi saya tidak mengetahui banyak bagaimana ceritanya orang mulai menanam vanili karena saya bersekolah SMA di luar pulau, yaitu di Dompu, Pulau Sumbawa. Ketika saya sudah kuliah di Mataram, pulau Lombok, saya pernah pulang kampung membantu adik-adik melakukan penyerbukan vanili. Membudidayakan vanili memang merepotkan, karena vanili tidak bisa melakukan penyerbukan sendiri. Selain itu, karena harganya mahal, vanili juga rawan pencurian. Menurut cerita orang-orang, pencurian dilakukan dengan menggunakan berbagai modus, termasuk modus ilmu hitam untuk menakut-nakuti pemilik kebun. Maklum, harga vanili sangat mahal, ibarat emas hijau yang berserakan di kebun. Tetapi kejayaan tidak bisa bertahan lama karena dihancurkan oleh penyakit busuk batang (Fusarium oxysporum f.sp. vanillae).

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More